A. Karomah Mbah Ma’shum (KH. M. Ma’shoem Ahmad Lasem)
Sebagaimana
umumnya para wali, Mbah Ma’shum juga dikaruniai karamah. Beliau tahu
kapan dirinya akan meninggal. Ketika Kyai Baidhowi wafat pada 11
Desember 1970, Mbah Ma’shum menyatakan bahwa 2 tahun lagi dirinya akan
wafat. Pernyataan ini kemudian menjadi kenyataan. Menurut seorang saksi,
Mbah Ma’shum ketika di depan jenazah Mbah Baidhowi, beliau seperti
berbicara dengan almarhum, dan berkata: “Ya, 2 tahun lagi saya akan
menyusul.”

Karamah lainnya adalah firasat yang tajam, mengetahui isi pikiran
orang. Ada satu kisah karamah lain yang menunjukkan ketinggian kedudukan
spiritualnya. Dikisahkan bahwa suatu waktu seusai shalat Dhuha, beliau
dipijiti oleh santrinya yang bernama Ahmad hingga tertidur. Mendadak di
luar kamar terdengar ada tamu menyampaikan salam. Ada sembilan orang
tamu berwajah habaib, duduk melingkar di ruang tamu. “Mbah Ma’shum ada?”
tanya salah satu dari mereka. Oleh Ahmad dijawab masih tidur, sambil
menawarkan untuk membangunkannya. “Tidak usah,” kata tamu itu. Lalu para
tamu itu berbicara satu sama lain dengan bahasa yang aneh, kemudian
mereka membaca shalawat lalu berpamitan. Begitu para tamu beranjak
keluar, Mbah Ma’shum memanggil Ahmad. “Ada apa Mad?” Setelah dijelaskan,
Mbah Ma’shum menyuruh Ahmad memanggil tamunya itu. Namun dalam waktu
sesingkat itu para tamu itu sudah menghilang. Kemudian Mbah Ma’shum
memberi tahu bahwa mereka adalah Wali Songo, dan yang berbicara tadi
adalah Sunan Ampel. Setelah memberi tahu jati diri mereka, Mbah Ma’shum
tidur lagi. Mbah Ma’shum juga terkenal dengan sebutan Kyai Bulus yang
artinya mengajar murid-muridnya tanpa disertai keterangan-keterangan
yang diperlukan si murid. Beliau hanya membaca kitab dengan memaknai
perkalimat saja, itupun dengan suara yang tidak jelas (nggremeng bahasa
Jawanya). Yang penting dibaca, faham gak faham ya silahkan. Seakan
murid-murid beliau setelah diajar ditinggalkan begitu saja, sama seperti
bulus (kura-kura) yang bertelur di pantai dibiarkan begitu saja tanpa
dierami menetas sendiri. Namun anehnya murid-murid beliau mempunyai
kefahaman yang lebih dari ketika ngaji di selain kyai yang satu ini.
Kisah lainnya adalah ketika Mbah Ma’shum kehabisan persediaan beras.
Lalu Mbah Ma’shum memimpin istighatsah dengan membaca petikan sajak dari
syair al-Burdah: “Wahai makhluk paling mulia (Muhammad), aku tak ada
tempat berlindung kecuali kepadamu pada peristiwa malapetaka besar”,
sebanyak (kurang lebih) 80 kali, dan dilanjutkan doa memohon rizki. Dan
pada saat itu seorang peserta, Ibu Nadhiroh menyela: “Amin, Mbah,
(beras) 1 ton.” Mbah Ma’shum membalas: “Tidak 1 ton, tapi lebih.”
Beberapa hari kemudian datang beberapa orang memberi beras yang banyak
sekali. Karamah mendatangkan beras ini sering terjadi. Dalam riwayat
lain diceritakan Mbah Ma’shum pada suatu pagi seusai mengajar Alfiyah
memanggil 12 santrinya, mengajak mereka mengamini doanya. Doanya
sederhana saja, tanpa mukadimah dan tanpa penutup: “Ya Allah Gusti, saya
minta beras.” Jam 11 siang datang becak mengantar beberapa karung
beras. Pada karung itu tertulis nama alamatnya pengirim dari Banyuwangi.
Suatu ketika Mbah Ma’shum mengunjungi alamat itu, dan ternyata alamat
itu adalah sepetak kebun pisang di daerah pedalaman dan di situ
masyarakatnya tidak ada yang kelebihan rizki sama sekali.
B. NU Ada di
Dada KH. Ma’shum Ahmad Sebagai kyai NU beliau juga gigih berjuang
mendukung membesarkan NU bersama kyai-kyai lainnya. Beliau amat
mencintai organisasi ini, sehingga beliau menyatakan tidak ridha jika
anak keturunannya tidak mengikuti NU. Bahkan Mbah Ma’shum sendiri selalu
didatangi oleh banyak kyai jika ada urusan penting di tubuh NU untuk
meminta nasihat dan doanya. Misalnya ketika hangat-hangatnya pembentukan
Jam’iyyah Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah, Mbah Ma’shum termasuk
yang setuju, dan bahkan menjadi salah satu “petinggi” organisasi tarekat
itu, walaupun beliau sendiri tidak mengamalkan praktik-praktik tarekat.
Menurutnya: “Saya sudah menggunakan tarekat langsung dari Kanjeng Nabi
Muhammad Saw., yakni berupa Hubb al-Fuqara’ wa al-Masakin (mencintai
kaum fakir miskin).” Selain itu banyak pula tokoh lain yang sowan kepada
beliau guna meminta doa restu. Hal ini juga dilakukan oleh Profesor
Kyai Haji Mukti Ali saat diangkat menjadi menteri agama. Mbah Ma’shum
bersedia mendoakan Mukti Ali jika dia mau mengikuti sarannya, yang salah
satunya menunjukkan kebesaran jiwanya: “Engkau jangan sekali-kali
membenci NU. Sebab membenci NU sama dengan membenci aku, karena NU itu
saya yang mendirikan bersama-sama ulama lain. Tetapi engkau pun jangan
membenci Muhamadiyyah. Jangan pula membenci PNI dan partai lain. Kau
harus dapat berdiri di tengah-tengah dan berbuat adil terhadap mereka.”
Ketika pecah huru-hara PKI, Mbah Ma’shum terpaksa melakukan perjalanan
dari kota ke kota, karena beliau termasuk tokoh yang diincar hendak
dibunuh oleh PKI.
C. Kewafatan KH. Ma’shum Ahmad Kyai yang diperkirakan
lahir sekitar tahun 1870 M ini wafat pada tanggal 14 Rabi’ul Awal tahun
1392 H atau bertepatan dengan tanggal 28 April tahun 1972 M jam 2 siang,
setelah shalat Jum’at. Upacara pemakamannya dibanjiri massa yang ingin
memberikan penghormatan terakhir. Pemakamannya dihadiri oleh banyak
tokoh ulama, petinggi partai politik dan pejabat pemerintah.
ADS HERE !!!